Pengalaman Sebagai Pengajar Daerah 3T, SMPN Satap Lemarang

Pada pos ini saya bernostalgia dan berbagi pengalaman suka duka ketika menjadi pengajar daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Berawal dari sebuah Program resmi Kemendikbud untuk menjawab pemerataan guru yang diberi nama SM3T. Program tersebut yang mengantar saya jauh ke luar pulau dan akhirnya mendapati SMPN Satap Lemarang. Sebuah sekolah yang jauh dari pusat kabupaten, Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

SMPN Satap Lemarang berada di kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, sebuah kabupaten wilayah NTT yang terletak di Pulau Flores. Sekolah ini dapat di tempuh 5 jam dari Ruteng, pusat kabupaten melalui jalur darat. Jarak yang cukup jauh untuk ukuran sebuah kabupaten di Pulau Jawa. Bahkan 5 jam di Jawa Timur sudah bisa menempuh Surabaya – Madiun yang jaraknya ratusan kilometer. Minimnya pembangunan akses transportasi menjadi kendala umum, sekaligus alasan kenapa SMPN Satap Lemarang masuk kategori 3T.

Pengajar daerah 3T
Keluarga SMPN Satap Lemarang Tahun 2011

Apa yang saya rasa ketika pertama kali datang ?

Hal ini tentu diluar gambaran atau cita-cita saat menjadi seorang mahasiswa (yang penuh idealis dan teoritis). Dan saya harus mengakui bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang bervariasi masyarakatnya. Ini pun menjadi pengalaman pertama menginjakkan kaki di luar Jawa-Bali.

Tantangan Menjadi Pengajar Daerah 3T

Perbedaan bahasa menjadi tantangan pertama ketika saya masuk ke SMPN Satap Lemarang. Perlu diketahui bahwa benar Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945, namun belum semua rakyat bisa berbahasa indonesia. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat 3T adalah bahasa lokal. Alasan logisnya adalah jarang orang luar (pendatang WNI) yang masuk berinteraksi dengan masyarakat 3T. Mereka hanya berkomunikasi dengan sesama kelompok sehingga dominan menggunakan bahasa lokal.

Bersyukur saya datang dan diterima dengan baik oleh keluarga Kepala Desa Lemarang (2011), Robertus Sani. Beliau sudah berpengalaman merantau di Makassar, sehingga tidak lagi kikuk dengan pendatang WNI.

Perbedaan sosiokultural masyarakat 3T menjadi tantangan kedua dan sekaligus terberat. Hal ini hanya dapat dipahami oleh yang berpengalaman merantau di luar kampung halaman. Bagaimana rasa yang timbul ketika kebiasaan-kebiasaan yang terbangun dalam diri sejak kecil, ternyata tidak berlaku di lokasi tersebut. Jika saya diumpamakan smartphone, maka perbedaan sosiokultur adalah tombol reset. Otak dan jasmani kita dituntut untuk menyesuaikan ulang dengan gaya pikir dan emosi masyarakat 3T.

Di Lemarang, saya lebih banyak menjadi penonton dalam acara adat atau pun hal yang terkait budaya lokal. Istilahnya, yang penting ikut hadir, ngerti atau gak ngertinya kemudian. Dan saya pun menjalani hari demi hari seperti musafir.

Pengajar Daerah 3T

Tantangan yang lain adalah terkait pembangunan infrastruktur. Pembangunan di Indonesia mungkin sangat memperhitungkan dampak ekonomi yang dihasilkan. Namun bagaimana dengan pembangunan daerah 3T yang secara ekonomis kurang menguntungkan.

Demikian yang terjadi di Lemarang, tahun 2011 (ketika bertugas) kampung ini belum mendapat aliran listrik PLN, sinyal telkomsel, atau pun jalan aspal. Semua masih alami !!! Setiap Sabtu-Minggu, saya wajib ke Reo untuk membeli sekardus Mie Instan dan berkumpul dengan teman se-program SM3T supaya tidak putus kontak. Tidak jarang saya harus berperahu mengarungi ganasnya ombak Tanjung Besi yang terkenal mematikan. Tidak jarang pula saya ikut naik turun bersama truk yang menaiki bukit kapur jalur Reo – Lemarang.

Hal Positif Dari Daerah 3T

Pengalaman di daerah 3T membuat saya menjadi lebih bersyukur, lebih tidak gegabah dalam menilai sesuatu. Bagi saya sekarang, setiap individu, setiap kampung, setiap kota, memiliki karakter unik masing-masing. Karakter unik inilah yang menentukan bagaimana pola suatu daerah akan berkembang selanjutnya.

Allah swt menjadikan Indonesia beraneka ragam, supaya dapat saling mengenal dan saling belajar satu dengan yang lain. Saya pun memohon maaf jika postingan ini hanya dapat dipahami oleh orang pernah merantau. bagi yang belum pernah merantau, atau merantaunya masih tingkat kabupaten, tidak ada salahnya jika mencoba sebagaimana yang saya lakukan beberapa tahun lalu.

About Yan Surachman 132 Articles
Belajar adalah cara terbaik untuk memperbaiki hidup. Setiap kesalahan yang dibuat kemarin, sebisa mungkin dihindari hari ini. Sehingga besok menjadi hari yang lebih baik.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*